Selasa, 21 Mei 2013

Contoh Jurnal KLKP (Komputerisasi Lembaga Keuangan Perbankan)


ANALISIS  PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PERBANKAN SYARIAH DAN PERBANKAN KONVENSIONAL

1.Latar belakang
Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting di dalam perekonomian suatu negara sebagai lembaga perantara keuangan. Bank dalam Pasal 1 ayat (2) UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Jenis bank di Indonesia dibedakan menjadi dua jenis bank, Jenis bank di Indonesia dibedakan menjadi dua jenis bank, yang dibedakan berdasarkan pembayaran bunga atau bagi hasil usaha:
1. Bank yang melakukan usaha secara konvensional.
2. Bank yang melakukan usaha secara syariah.
Bank konvensional dan bank syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagainya. Perbedaan mendasar diantara keduanya yaitu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja (Syafi’I Antonio, 2001).
Perkembangan industri keuangan syariah secara informal telah dimulai sebelum dikeluarkannya kerangka hukum formal sebagai landasan
operasional perbankan di Indonesia.
Kebutuhan masyarakat tersebut telah terjawab dengan terwujudnya sistem perbankan yang sesuai syariah. Pemerintah telah memasukkan kemungkinan tersebut dalam undang-undang yang baru. Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan secara implisit telah membuka peluang kegiatan usaha perbankan yang memiliki dasar operasional bagi hasil yang secara rinci dijabarkan dalam Peraturan PemerintahNo. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Ketentuan tersebut telah dijadikan sebagai dasar hukum beroperasinya bank syariah di Indonesia.
Bank menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Periode 1992 sampai 1998, hanya terdapat satu Bank Umum Syariah dan 78 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang telah beroperasi. Tahun 1998 muncul UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No 7 Tahun 1992 tentang perbankan. PerubahanUU tersebut menimbulkan beberapa perubahan yang memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan bank syariah. Undang-undang tesebut telah mengatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah.
Akhir tahun 1999, bersamaan dengan dikeluarkannya UU perbankan maka munculah bank-bank syariah umum dan bank umum yang membuka unit usaha syariah. Sejak beroperasinyaBank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai bank syariah yang pertama pada tahun 1992, dengan satu kantor layanan dengan asset awal sekitar Rp. 100 Milyar, maka data Bank Indonesia per 30 Mei 2007 menunjukkan bahwa saat ini perbankan syariah nasional telah tumbuh cepat, ketika pelakunya terdiri atas 3 BankBank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 106 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), sedangkan asset kelolaan perbankan syariah nasional per Mei 2007 telah berjumlah Rp. 29 triliyun. Perkembangan bank umum syariah dan bank konvensional yangmembuka cabang syariah juga didukung dengan tetap bertahannya bank syariah pada saat perbankan nasional mengalami krisis cukup parah pada tahun 1998. Sistem bagi hasil perbankan syariah yang diterapkan dalam produk-produk Bank Muamalat menyebabkan bank tersebut relatif mempertahankan kinerjanya dan tidak hanyut oleh tingkat suku bunga simpanan yang melonjak sehingga beban operasional lebih rendah dari bank konvensional (Novita Wulandari, 2004).
Hal mendasar yang membedakan antara lembaga keuangan konvensional dengan syariah adalah terletak pada pengembalian dan pembagian keuntungan yang diberikan oleh nasabah kepada lembaga keuangan dan/atau yang diberikan oleh lembaga keuangan kepada nasabah (Muhammad, 2005). Kegiatan operasional bank syariah menggunakan prinsip bagi hasil (profit and loss sharing). Bank syariah tidak menggunakan bunga sebagai alat untuk memperoleh pendapatan maupun membebankan bunga atas penggunaan dana pinjaman karena bunga merupakan riba yang diharamkan.
Pola bagi hasil ini memungkinkan nasabah untuk mengawasi langsung kinerja bank syariah melalui monitoring atas jumlah bagi hasil yang diperoleh. Jumlah keuntungan bank semakin besar maka semakin besar pula bagi hasil yang diterima nasabah, demikian juga sebaliknya. Jumlah bagi hasil yang kecil atau mengecil dalam waktu cukup lama menjadi indikator bahwa pengelolaan bank merosot. Keadaan Keadaan itu merupakan peringatan dini yang transfaran dan mudah bagi nasabah. Berbeda dari perbankan konvensional, nasabah tidak dapat menilai kinerja hanya dari indikator bunga yang diperoleh (Novita Wulandari, 2004).
Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank perlu menjaga kinerjanya agar dapatberoperasi secara optimal. Terlebih lagi bank syariah harus bersaing dengan bank konvensional yang dominan dan telah berkembang pesat di Indonesia. Persaingan yang semakin tajam ini harus dibarengi dengan manajemen yang baik untuk bisa bertahan di industri perbankan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh bank untuk bisa terus bartahan hidup adalah kinerja (kondisi keuangan) bank. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ini.

Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kinerja keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional untuk masing-masing rasio keuangan?
2. Adakah perbedaan yang signifikan atas kinerja keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional secara keseluruhan?

Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan penelitian ini antara lain:
1. Menganalisa kinerja keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional untuk masing-masing rasio keuangan.
2. Menganalisa kinerja perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional secara keseluruhan.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh bagi beberapa pihak dari penelitian mengenai perbandingan kinerja keuangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional antara lain:
1. Bagi penulis, dengan melakukan penelitian ini penulis memperoleh pengalaman dan ilmu pengetahuan baru mengenai perbankan syariah.
2. Bagi Bank syariah, dapat dijadikan sebagai catatan/koreksi untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya, sekaligus memperbaiki apabila ada kelemahan dan kekurangan.
3. Bagi bank konvensional, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan atau pertimbangan untuk membentuk atau menambah Unit Usaha Syariah atau bahkan mengkonversi menjadi bank syariah.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain:
1. Menentukan sampel penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Perbankan syariah yang diwakili oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM).
2. Menghitung variabel-variabel yang digunakan dalam perbandingan kinerja keuangan bank yang meliputi:
a. Rasio permodalan, yang diwakili oleh variabel rasio CAR (Capital Adequacy Ratio)
CAR = Modal Bank/Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
b. Rasio kualitas aktiva produktif, yang diwakili oleh NPL (Non Performing Loan).
NPL = Total Kredit Bermasalah/Total Seluruh Kredit
c. Rasio Rentabilitas, yang diwakili oleh variabel rasio ROA (Return on Asset) dan ROE (Return on Equity)
ROA = Laba Bersih/Total Aktiva
ROE = Laba Bersih/Modal Sendiri
d. Rasio biaya/efisiensi bank, yang diwakili oleh variabel rasio BOPO.
BOPO = Biaya Operasional/Pendapatan Operasional
e. Rasio Likuiditas, yang diwakili oleh variabel rasio LDR (Loan to Deposit Ratio).
LDR = Total Kredit yang Diberikan/Dana Pihak Ketiga



Bank Syariah
Bank Konvensional
Melakukan investasi yang halal saja
Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa

Profit dan falah oriented

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan

Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa dewan pengawas syariah

Bebas nilai

Memakai perangkat bunga


Profit oriented

HubunganHubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitor – kreditor

Tidak terdapat dewan sejenis




Sumber: http://mahendradicky.blogspot.com/2012/01/analisis-perbandingan-kinerja-keuangan.html

Rabu, 03 April 2013

PROSES PENGUMPULAN DATA



Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.

Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan nara sumber.

Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagainya.

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap petanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Data itu dikumpulkan oleh sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut terdiri atas sekumpulan unit analisis sebagai sasaran penelitian.

Variabel-variabel yang diteliti terdapat pada unit analisis yang bersangkutan dalam sampel penelitian. Data yang dikumpulkan dari setiap variabel ditentukan oleh definisi operasional variabel yang bersangkutan. Definisi operasional itu menunjuk pada dua hal yang penting dalam hubungannya dengan pengumpulan data, yaitu indikator empiris dan pengukuran.

Indikator empiris menunjuk pada yang diamati dari variabel yang bersangkutan, dan pengukuran menunjuk pada kualitas yang diamati. Sehubungan dengan masalah pengukuran ini, harus disadari bahwa kita menghadapi obyek yang berbeda-beda yang mengakibatkan adanya variasi dalam pengukuran. Prof. Dr. Sutrisno Hadi, M.A. menyebutkan 5 variasi pada pengukuran, yaitu:

1. perbedaan yang terdapat dalam obyek-obyek yang dukur,
2. perbedaan situasi pada saat pengukuran dilakukan,
3. perbedaan alat pengukuran yang digunakan,
4. perbedaan penyelenggeraan atau administrasinya,
5. perbedaan pembacaan dan atau penilaian hasil pengukurannya.

Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan dalam melakukan pengumpulan data. Masalah validitas reliabilitas merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam masalah pengukuran ini. Alat ukur dikatakan valid apabila alat itu mengukur yang diukurnya dengan teliti. Proses pengumpulan data itu sendiri menurut Nan Lin pada umunya terdiri atas 8 tahap, sebagai berikut:

1. Tinjauan literatur dan konsultasi dengan ahli

Pengumpulan data biasanya diawali dengan mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan masalah penelitian. Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui peninjau literatur yang relevan dan konsultasi dengan para ahli. Melalui usaha-usaha ini peneliti berusaha memahami benar-benar isu penelitian, konsep, dan variable-variabel yang dipergunakan oleh peneliti lain dalam mempelajari hal yang serupa di masa lalu, dan hipotesis-hopotesis yang pernah diteliti pada waktu lalu. Perlu juga dipahami ciri-ciri orang yang menjadi responden kita dalam penelitian.

2. Mempelajari dan melakukan pendekatan terhadap kelompok masyarakat di mana data akan dikumpulkan.

Maksudnya supaya peneliti yang bersangkutan dapat diterima di dalam kelompok masyarakat itu dan memahami berbagai kebiasaan yang berlaku di dalamnya. Untuk itu perlu dikaitkan pendekatan terhadap tokoh-tokoh yang bersangkutan.

3. Membina dan memanfaatkan hubungan yang baik dengan responden dan lingkungannya.

Untuk maksud tersebut peneliti perlu mempelajari kebiasaan-kebiasaan respondennya termasuk cara mereka berpikir, cara mereka melakukan sesuatu, bahasa yang dipergunakan, waktu luang mereka, dan sebagainya.

4. Uji coba atau pilot study

Pengumpulan data didahului dengan uji coba instrumen penelitian pada sekelompok masyarakat yang merupakan bagian dari populasi yang bukan sample. Maksudnya untuk mengetahui apakah instrument tersebut cukup handal atau tidak, komunikatif, dapat dipahami, dan sebagainya.

5. Merumuskan dan menuyusun pertanyaan

Setelah hasil uji coba itu dipelajari, disusunlah instrumen penelitian dalam bentuknya yang terakhir berupa pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan tujuan penelitian. Pertanyaan itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga ia mengandung makna yang signifikan dan substansif.

6. Mencatat dan memberi kode (recording and coding)

Melalui instrumen penelitian yang telah dipersiapkan, dilakukan pencatatan terhadap data yang dibutuhkan dari setiap responden. Informasi-informasi yang diperoleh dari pencatatan ini diberi kode guna memudahkan proses analisis.

7. Cross checking, validitas, dan reliabilitas

Tahap ini terdiri atas cross checking terhadap data yang masih diragukan kebenarannya, serta memeriksa validitas dan reliabilitasnya.

8. Pengorganisasian dan kode ulang data yang telah terkumpul supaya dapat dianalisis.

 

Sumber:
http://teorionline.wordpress.com/service/metode-pengumpulan-data/
http://dinulislamjamilah.wordpress.com/2010/04/12/metode-pengumpulan-data

Minggu, 31 Maret 2013

Pertemuan Ke- II Komputerisasi Lembaga Keuangan Perbankan

Assets
Liabilities

          -  KAS
     - Rekening koran pada bank Indonesia

Deposit
     -  Saving deposit (tabungan)
     - Time deposit (deposito)
     -   Demand (giro)

Loan (Kredit)


Securitas
Securitas
Obligasi
Other Asset
Capital
     -    Setoran modal
     -Stock / saham                              Deviden
     - Tambahan modal (laba ditahan)
  Retimed earning


i2 – i1 = interent spread
-          Lembaga yang wajib menjaga likuiditas yaitu Bank.
-          Lembaga yang wajib menjaga solvabilitas yaitu Asuransi.

Loan to Deposit Ratio ( LDR )
LDR adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. LDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas.

RUMUS LDR = Jumlah kredit yang diberikan x 100%
Total dana Pihak Ketiga + Modal Inti

fungsi :
- Setiap bank yang likuiditas wajib minimal 8% disimpan di BI, jika kurang dari 8% maka bisa disimpulkan bahwa bank tersebut likuid dan tidak boleh beroperasi.
- Transaksi kliring : proses tukar menukar surat nota giro atau surat nota yang lainnya pada suatu tempat (Bank Indonesia) miniml 8% yang dinamakan dengan legal reserve requitment.

 Contoh transaksi kliring :
Ali menabung di bank SITI (jakarta), dan atun menabung di bank RBI (jakarta). suatu ketika si ali ingin memberikan uang sebesar Rp. 10.000.000 kepada atun untuk membeli kerupuk. tetapi karena mereka berbeda bank, maka harus melalui jalur kliring. dimana ali dengan menggunaka bank SITI mengeluarkan nota kredit pada BI, dan dikirim dari BI ke bank RBI, lalu RBI mengeluarkan nota debit kepada BI lalu dikirim kembali ke bank SITI sebagai bukti bahwa uang tersebut sudah sampai pada bank RBI.

keterangan :
- Kliring dilakukan apabila bank-nya berbeda dalam proses transaksi.
- Transfer dilakukan apabila bank-nya sama dalam proses transaksi.

Cara pengambilan :
* Tabungan :
-tunai
-pemindah bukuan (pinbuk)
-ATM
* Giro :
-cek (atas unjuk)
-bilyet giro (atas nama)
* Deposit :
-tidak bisa diambil langsung, harus pinbuk terlebih dahulu dan ini secara periodik

Contoh transaksi kliring antar kota :
bank A di jakarta mempunyai cabang bank A di solo, dan bank C (jakarta) mempunyai cabang bank C (cabang solo). suatu ketika bank A dengan bank C ingin melakukan transaksi. maka bank A (jakarta) mentransfer uang ke bank A (cabang solo), kemudian bank A(cabang solo) melakukan kliring pada bank C (cabang solo).

Aktiva
Passiva
+ Debit
+ Kredit
-Kredit
-Debit

Kamis, 28 Maret 2013

Contoh Berita Yang Mengandung Unsur 5W + 1H

Lima Penderita Leptopirosis Meninggal Dunia

JAKARTA -- Jumlah penderita leptopirosis (kencing tikus) yang meninggal hingga Kamis (22/2) pagi mencapai lima orang. Meskipun banjir mulai menurun, penyakit ini harus tetap diwaspadai. Pasalnya, penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira ini masih dalam kondisi masa inkubasi.
''Pasien yang meninggal akibat penyakit kencing tikus bertambah menjadi lima orang, padahal sehari sebelumnya masih tercatat tiga orang yang meninggal,'' kata Kepala Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Departemen Kesehatan (Depkes), dr. Rustam S Pakaya. Menurut Rustam, tiga korban meninggal itu sebelumnya dirawat di RSUD Tarakan, satu korban di RS Sulianti Saroso, dan satu lainnya di RSUD Tangerang. Sementara, pasien suspect leptospirosis, mencapai 135 kasus.

Data terakhir yang diperoleh, kata Rustam, penderita lepstopirosis ada 119 orang dan suspect sebanyak 33 kasus. Pasien tersebar di sejumlah rumah sakit, di antaranya di RSUD Tarakan (36 pasien), RSUD Cengkareng (sembilan orang) RSUD Tangerang (13 orang), RS Persahabatan (tujuh orang), RSUD Budhi Asih (enam orang), Rumah Sakit Infeksi Paru Sulianti Saroso (RSPI-SS) dua orang, RS Sumber Waras (lima orang), RS Fatmawati (tujuh orang), dan RS Gading Pluit (satu orang).

Sementara, penderita yang telah pulang dan sembuh 20 orang, yaitu di RSUD Cengkareng (dua orang), RSUD Tarakan (10 orang), RSUD Tangerang (enam orang), RSPI SS (satu orang), dan RS Gading Pluit (satu orang). Rustam menjelaskan, hingga Rabu malam, data pasien pascabanjir masih dirawat di 32 rumah sakit (RS) di DKI Jakarta, Banten, dan Jabar sebanyak 1.456 pasien. Jumlah tersebut termasuk pasien demam berdarah dengue (DBD), yakni yang dirawat sebanyak 378 orang dan meninggal 13 orang.
Sementara untuk untuk pasien GEA (gastro, muntah, enteritis, berak encer,acuta), yang dirawat 712 orang, dan meninggal 20 orang. Untuk kasus tetanus dua orang, dan sisanya patah tulang, ISPA, dan lainnya, Menurut Rustam, kecepatan penananganan pasien-pasien pascabanjir termasuk penanganan kencing tikus, sudah ada standar operasionalnya (SOP). ''Karenanya, semua sudah kami serahkan kepada dokter di RS setempat,'' ujarnya.

Pada peristiwa banjir tahun 2002 silam, tercatat ada 113 pasien leptospirosisdi Jakarta, 20 di antaranya meninggal. Pada saat itu banyak kasus liver yang diakibatkan penyakit atau kencing tikus ini. Menurut Rustam, penyakit ganas ini dipicu bakteri Leptospira yang ada pada ginjal tikus. Saat si tikus kencing,air seninya bercampur air bah yang mengalir ke segala penjuru kota. Koloni bakteri pun bebas merdeka memasuki tubuh manusia, terutama melalui kulit
yang tergores. Biasanya, penderita akan mual, muntah, demam, diikuti pembengkakan limfa yang mematikan.

Untuk pencegahan, kata Rustam, masyarakat di daerah banjir harusmenggunakan sepatu boot. Selain itu, masyarakat harus menjaga kondisi tubuh karena korban banjir pasti staminanya menurun.
Kondisi di tempat banjir pastilah bercampur dengan sampah sehingga masyarakat yang membersihkan sampah harus berhati-hati. Bagi warga yang menemukan gejala leptospirosis seperti panas dan mata merah segera dibawa ke RS atau ke dokter setempat.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa pasien yang masuk rumah sakit karena leptospirosis meningkat. Untuk itu, warga harus terus menjaga kesehatan dan jika terjadi gejala leptospirosis harus segera dibawa ke RS.


Sumber:
Republika, Jumat, 23 Februari 2007 dengan pengubahan
http://shazabrina.blogspot.com/2011/04/menulis-teks-berita-secara-singkat.html

Selasa, 12 Maret 2013

Materi Minggu I Kom. Lembaga Keuangan Perbankan


          Uang adalah sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima dalam pembayaran dan pembelian barang dan jasa, serta pembayaran hutang dengan kepastian dan tanpa penundaan. Uang berfungsi sebagai alat tukar, satuan hitung, kekayaan dan kemakmuran.

Ada beberapa istilah dalam peredaran uang, yaitu diantaranya :
·         Bank                      : merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
·         Giro                       : yaitu simpanan yang dapat ditarik setiap saat dengan menggunakan cek/bilyet giro
·         Tabungan            : yaitu simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.
·         Pasar Modal       :  merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya.
·         Saham                  : yaitu tanda penyertaan atas kepemilikan seseorang pada perusahan penerbit saham yang bersangkutan.
·         Deviden               : yaitu pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki.
·         Capital gain         : yaitu kenaikan harga saham/selisih antara pembelian dengan penjualan dimasa yang akan datang. Contoh : misal harga saham pada pukul 09.30 sebesar Rp. 1000/lembar dan kemudian pada pukul 11.00 naik menjadi Rp.1500/lembar, maka capital gain pada saat itu sebesar Rp.500/lembar.
·         Obligasi                                : adalah surat hutang jangka menengah-panjang yang dapat dipindah tangankan dan berisi janji dari pihak yang menerbitkan utuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok hutang pada waktu yang ditentukan pada pembeli obligasi tersebut.
·         Hutang                 : yaitu pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang yg timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain di masa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu.
·         Diskonto              : yaitu Jumlah selisih kurang antara nilai kini kewajiban (present value) dengan nilai jatuh tempo kewajiban (maturity value) karena tingkat bunga nominal lebih rendah dari tingkat bunga efektif.