Kamis, 28 Maret 2013

Contoh Berita Yang Mengandung Unsur 5W + 1H

Lima Penderita Leptopirosis Meninggal Dunia

JAKARTA -- Jumlah penderita leptopirosis (kencing tikus) yang meninggal hingga Kamis (22/2) pagi mencapai lima orang. Meskipun banjir mulai menurun, penyakit ini harus tetap diwaspadai. Pasalnya, penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira ini masih dalam kondisi masa inkubasi.
''Pasien yang meninggal akibat penyakit kencing tikus bertambah menjadi lima orang, padahal sehari sebelumnya masih tercatat tiga orang yang meninggal,'' kata Kepala Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Departemen Kesehatan (Depkes), dr. Rustam S Pakaya. Menurut Rustam, tiga korban meninggal itu sebelumnya dirawat di RSUD Tarakan, satu korban di RS Sulianti Saroso, dan satu lainnya di RSUD Tangerang. Sementara, pasien suspect leptospirosis, mencapai 135 kasus.

Data terakhir yang diperoleh, kata Rustam, penderita lepstopirosis ada 119 orang dan suspect sebanyak 33 kasus. Pasien tersebar di sejumlah rumah sakit, di antaranya di RSUD Tarakan (36 pasien), RSUD Cengkareng (sembilan orang) RSUD Tangerang (13 orang), RS Persahabatan (tujuh orang), RSUD Budhi Asih (enam orang), Rumah Sakit Infeksi Paru Sulianti Saroso (RSPI-SS) dua orang, RS Sumber Waras (lima orang), RS Fatmawati (tujuh orang), dan RS Gading Pluit (satu orang).

Sementara, penderita yang telah pulang dan sembuh 20 orang, yaitu di RSUD Cengkareng (dua orang), RSUD Tarakan (10 orang), RSUD Tangerang (enam orang), RSPI SS (satu orang), dan RS Gading Pluit (satu orang). Rustam menjelaskan, hingga Rabu malam, data pasien pascabanjir masih dirawat di 32 rumah sakit (RS) di DKI Jakarta, Banten, dan Jabar sebanyak 1.456 pasien. Jumlah tersebut termasuk pasien demam berdarah dengue (DBD), yakni yang dirawat sebanyak 378 orang dan meninggal 13 orang.
Sementara untuk untuk pasien GEA (gastro, muntah, enteritis, berak encer,acuta), yang dirawat 712 orang, dan meninggal 20 orang. Untuk kasus tetanus dua orang, dan sisanya patah tulang, ISPA, dan lainnya, Menurut Rustam, kecepatan penananganan pasien-pasien pascabanjir termasuk penanganan kencing tikus, sudah ada standar operasionalnya (SOP). ''Karenanya, semua sudah kami serahkan kepada dokter di RS setempat,'' ujarnya.

Pada peristiwa banjir tahun 2002 silam, tercatat ada 113 pasien leptospirosisdi Jakarta, 20 di antaranya meninggal. Pada saat itu banyak kasus liver yang diakibatkan penyakit atau kencing tikus ini. Menurut Rustam, penyakit ganas ini dipicu bakteri Leptospira yang ada pada ginjal tikus. Saat si tikus kencing,air seninya bercampur air bah yang mengalir ke segala penjuru kota. Koloni bakteri pun bebas merdeka memasuki tubuh manusia, terutama melalui kulit
yang tergores. Biasanya, penderita akan mual, muntah, demam, diikuti pembengkakan limfa yang mematikan.

Untuk pencegahan, kata Rustam, masyarakat di daerah banjir harusmenggunakan sepatu boot. Selain itu, masyarakat harus menjaga kondisi tubuh karena korban banjir pasti staminanya menurun.
Kondisi di tempat banjir pastilah bercampur dengan sampah sehingga masyarakat yang membersihkan sampah harus berhati-hati. Bagi warga yang menemukan gejala leptospirosis seperti panas dan mata merah segera dibawa ke RS atau ke dokter setempat.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa pasien yang masuk rumah sakit karena leptospirosis meningkat. Untuk itu, warga harus terus menjaga kesehatan dan jika terjadi gejala leptospirosis harus segera dibawa ke RS.


Sumber:
Republika, Jumat, 23 Februari 2007 dengan pengubahan
http://shazabrina.blogspot.com/2011/04/menulis-teks-berita-secara-singkat.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar